Sabtu, 05 Juni 2010

Program Sister City Surabaya, Basa-basi?
Hingga hari jadinya pada 31 Mei 2010, Kota Surabaya memiliki 14 kota kembar.
Senin, 17 Mei 2010, 14:57 WIB
Elin Yunita Kristanti

Kota Surabaya
SURABAYA POST - Kota, kembaran Surabaya tersebar di empat benua di bumi ini: Amerika, Asia, Australia, dan Eropa. Kembaran terbaru Surabaya adalah Kota Varna, Bulgaria.
Pada April-Mei 2010 ini, Walikota Surabaya Bambang DH dijadwalkan mengundang Walikota Varna, Bulgaria, Kiril Yordanov, untuk menandatangani nota kesepakatan atau memorandum of understanding (MoU) sister city Varna-Surabaya.
Bulan April telah berlalu dan sang tamu belum tiba. Diperkirakan Mei ini, acara itu terlaksana. Ini merupakan tindak lanjut kunjungan Walikota Bambang DH ke Kota Varna, 24 November 2009. Inilah kerjasama sister city pertama Surabaya dengan salah satu kota di Eropa Timur.
Letter of intent (loI) telah diteken Bambang DH dan Kiril Yordanov di Varna pada November 2009 itu. Acara itu disaksikan Dubes RI IR Inkiriwang, tiga Wakil Walikota Varna, Direktur Kebudayaan dan anggota dewan setempat, serta tiga delegasi Pemkot Surabaya.
Tertuang dalam LoI, kerjasama itu bertujuan memajukan itikad baik, persahabatan, saling pengertian dan juga kerjasama menguntungkan di antara-rakyat kedua kota. Kedua walikota berkeinginan menjalin kerjasama sister city untuk peningkatan kerjasama ekonomi, industri dan perdagangan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, transportasi, kesehatan dan rumah sakit, kebudayaan, kesenian, serta pariwisata.
Kerjasama Surabaya-Varna ini sejalan dengan MoU yang telah diteken Indonesia-Bulgaria pada 19 November 2009 di Lombok. Dalam kerjasama itu disepakati program bebas visa bagi warga kedua negara pemegang paspor diplomatik dan paspor dinas – yang diteken Dirjen Amerika Eropa (Amerop) Deplu Duta Besar, Retno LP Marsudi, dan Deputi Menlu Bulgaria, Marin Raykov.
Perjanjian di Lombok tersebut diteken Retno LP dan Deputi Menteri Ekonomi, Energi dan Pariwisata Bulgaria, Evgeni Angelov dalam sebuah pertemuan Konsultasi Politik dan Ekonomi.
Varna adalah salah satu kota yang digandrungi Surabaya sebagai sister city. Sebelumnya, Surabaya sudah menjalin Memorandum of Understanding/MoU (nota kepakatan) sister city dengan 5 kota lain. Yaitu dengan Seattle (Amerika Serikat) sejak 1992, Busan ( Korea Selatan) sejak 1994, Kochi (Jepang) sejak 1997, Guangzhou (China) sejak 2000, dan Xiamen ( China ) sejak 2008.
Khusus 2009, selain dengan Varna, Kota Surabaya juga kerjasama sister city dengan Marseille (Prancis) dan Shah Alam (Malaysia). MoU-nya sedang diajukan ke DPRD Kota Surabaya untuk mendapatkan persetujuan.
Selain itu, Surabaya juga menjajaki kerjasama dengan Kota Kunming di Provinsi Yunan (China), Perth (Australia Barat), Rotterdam (Belanda), dan Kitakyushu (Jepang). Sudah dilakukan penandatanganan Letter of Intens (surat hasrat) untuk kerjasama ini, dan akan ditingkatkan ke MoU (selengkapnya lihat tabel).
Hanya saja, yang jadi catatan kurang baik, Surabaya pernah menjalin kerjasama dengan Kota Izmir dan Istambul di Turki pada 1996. Dengan Izmir berhenti pada tingkat LoI tanap tindak lanjut hingga kini. Sedangkan dengan Istambul, hanya sebatas komunikasi, juga tak jelas kelanjutannya hingga sekarang.
Sister city merupakan bentuk kerjasama lebih lengkap karena mencakup berbagai bidang. Ada bentuk kerjasama lainnya, yaitu counter part dan friend ship, namun hanya sebatas partner atau pertemanan tanpa dilanjutkan action konkret seperti pertukaran pelajar, guru, budaya, pengetahuan, perdagangan, pengenalan kota, dan lain-lain.
’’Sister city merupakan bentuk kerjasama yang memiliki strata tertinggi dibanding bentuk kerjasama yang lain. Karena itu Surabaya lebih memilih sister city daripada yang lain,” kata Kepala Bagian Kerja Sama Pemkot Surabaya Antik Sugiharti khusus kepada Surabaya Post, akhir pekan lalu.

Sayangnya, sister city dengan beberapa kota dinilai hanya basa-basi. Padahal sudah telanjur menghabiskan APBD yang tidak sedikit. Meski kerjasama dengan kota lain dinilai sudah bagus.
”Saya melihat ada sister city yang masih basi-basi. Namun, ada pula yang sudah bagus dan sungguh-sungguh karena ada kemajuan dan menguntungkan Surabaya,” kata pengamat perkotaan Surabaya Prof Dr Johan Silas.
Sister city yang basa-basi, kata Silas, terlihat antara Surabaya dan Perth serta Turki (Kota Izmir dan Istambul). Menurut Silas, kerjasama itu tidak dilanjutkan dengan hubungan bilateral yang berkelanjutan. ’’Hubungan itu mubazir dan buang-buang anggaran. Yang seperti ini saya tidak setuju,” ungkap pendiri jurusan Teknik Arsitektur ITS Surabaya itu.
Kondisi hampir sama terjadi pada kerjasama sister city antara Surabaya dan Kota Seattle di Amerika Serikat sejak 1992. Sekarang hubungan kerjasama itu tak dipelihara lagi atau mati suri. Tidak ada bentuk kerjasama yang konkret lagi.
Padahal, bila kerjasama dengan Seattle itu terus dikembang, akan sangat bagus. Seattle memiliki Universitas Washington yang sangat besar dan terkenal. Bila universitas ini bekerjasama dengan Pemkot, sangat memungkinkan akan menghasilkan hal yang positif bagi pendidikan di Surabaya. ”Surabaya yang memiliki Unair dan ITS serta perguruan tinggi lain. Mereka bisa menjalin kerjasama dengan universitas di Saettle,” ungkapnya.
Hal lain yang perlu dievaluasi dari kerjasama sister city ini adalah soal pejabat yang menangani kerjasama antarkota ini. Di Pemkot hubungan kerjasama ditangani bagian kerjasama. Sementara kerjasama antarkota antarnegara ini seharusnya ditangani langsung walikota atau wakil walikota. Karena yang bekerjasama adalah antar kepala daerah.
Menurut dia, hubungan sister city ini paling tepat ditangani wakil walikota bila walikotanya tidak sempat mengurusinya. ”Di sini kelemahan Pemkot dalam hubungan antarkota antarnegara tersebut,” ungkapnya.
Padahal, lanjutnya, bila sister city ini betul-betul dilaksanakan dengan baik, Surabaya akan mendapatkan manfaat yang luar biasa dari kerjasama itu. Terutama di bidang lingkungan hidup, transportasi, perdagangan dan pendidikan.
Di bidang lingkungan hidup Surabaya bisa meniru Kochi, di bidang transportasi Surabaya bisa meniru Marseille (Prancis) dan di bidang pendidikan bisa meniru Seatttle.
Kochi adalah kota kecil di sebuah pulau di Jepang. Tapi di kota ini memiliki lingkungan hidup yang bagus. Baik taman kota maupun pengelolan sampahnya sangat baik dan patut ditiru. ”Terkait dengan pengelolaan sampah dan lingkungan hidup ini Surabaya masih jauh tertinggal dengan Kochi. Nah, bila Surabaya bisa meniru Kochi alangkah baiknya, kan,” terang dia.
Dari kota Marsielle (Prancis), Surabaya bisa meniru soal manajemen transportasi dan pengaturan lalu lintasnya. Penataan transportasi kota ini sangat bagus dan tidak semerawut seperti Surabaya. Hasil dari penataan tranpostasi dan kota yang baik, urainya, sudah tentu akan bisa menarik wisatawan dan peningkatan kualitas dunia pendidikan. Bahkan, usaha perdagangannya pun bisa maju lebih cepat.

Sebatas Studi Banding, Melihat pemaparan tersebut, sister city hanya optimal dengan beberapa kota dan belum optimal untuk sebagian besar kota lainnya. Dr Haryo Suliatiarso, pengamat tata kota dari ITS lebih melihat program sister city sekadar untuk studi banding dengan membawa rombongan besar. Kegiatan itu dia nilai membuang-buang APBD miliaran rupiah. ”Saya melihat kondisi seperti itu sudah tampak dalam kerjasama sister city yang dilakukan Pemkot. Bila ini tidak diperbaiki suatu saat sister city akan menjadi program klenceran para pejabat Pemkot. Ini yang saya tidak setuju,” ungkap dosen ITS ini. Haryo mencontohkan, sister city dengan Seattle sejak 1992. Bila kerjasama Surabaya dengan Seattle masih sama dengan pada 1992, berarti kerjasama itu sudah tak ada kemajuan lagi.
Menurut Haryo, sejak 1990-an saat Surabaya kerjasama sister city dengan Seattle hingga sekarang kerjasama dengan Kochi, Busan, dan Marseille, Surabaya tidak punya kemiripan fisik dengan kota itu. Kota kembarnya sudah jauh lebih maju. Sedangkan Surabaya belum. ”Nah, apanya yang mirip kalau disebut kota kembar. Saya kira tidak ada. Karena dengan kota Shah Alam yang akan dijajaki untuk dijadikan sister city Surabaya jauh ketinggalan di berbagai bidang,” ungkapnya. Lantas apanya yang perlu dibanggakan dengan sister city. ”Kalau sekadar untuk belajar is oke, tapi kalau dijadikan kota kembar rasanya masih perlu ada evaluasi lagi,” tambahnya.*

Evaluasi Kota Kembar Surabaya
1. Seattle (Amerika Serikat) sejak 1992Tak Terurus
2. Busan (Korea Selatan) sejak 1994 Jalan (MoU)
3. Izmir (Turki) sejak 1996 Mandek di LoI
4. Istambul (Turki) sejak 1996 Mandek/sebatas komunikasi
5. Kochi (Jepang) sejak 1997 Jalan (MoU)
6. Guangzhou ( China ) sejak 2000 Jalan (MoU)
7. Xiamen (China) sejak 2008 Jalan (MoU)
8. Marseille, Prancis sejak 2009 Menuju MoU
9. Shah Alam (Malaysia) sejak 2009 Menuju MoU
10. Varna (Bulgaria) sejak 2009 Menuju MoU
11. Kunming (China) Penjajakan (LoI)
12. Perth (Australia Barat) Penjajakan (LoI)
13. Rotterdam (Belanda) Penjajakan (LoI)
14. Kitakyushu (Jepang) Penjajakan (LoI)
-------------------
Sumber: Bagian Kerjasama Pemkot Surabaya dan pakar kota Prof. Johan Silas

Bidang Kerjasama
- Seattle, Kochi, dan Guangzhou: Perencanaan kota, kebudayaan, kesenian, pariwisata, kepelabuhanan, pemuda, olah raga
- Guangzhou, Xiamen, Shah Alam, Marseille, Varna : Ekonomi, industri dan perdagangan (ekspor impor), pendidikan (pertukaran pelajar), iptek (pertukaran pegawai), transportasi, kesehatan dan rumah sakit, kebudayaan, kesenian dan pariwisata, dan dikembangkan ke kepelabuhanan.
- Kunming, Perth, Rotterdam, Kitakyushu
Dengan Perth: pertukaran pelajar dan guru. Dengan Kitkyushu: manajemen kota, ekonomi dan perdagangan, pendidikan, kebudayaan, kepemudaan dan olahraga. Dengan Rotherdam: manajemen pelabuhan, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, kepemudaan dan olahraga, pengelolaan lingkungan dan kota, transportasi dan turis dan sumber daya manusia). Dengan Kunming: ekonomi, pengelolaan sampah, perdagangan, pendidikan dan kebudayaan. (umi)

Oleh: Purnomo Siswanto

7 komentar:

Anonim mengatakan...

sebenarnya sister city dapat menjadi konsep dalam pengembangan pembangunan wilayah apabila dimanfaatkan secara optimal. namun kenyataannya hanya berupa studi banding dan jalan - jalan saja sehingga manfaatnya tidak dirasakan oleh masyarakat. ini merupakan kesalahan dari pihak pemerintah yang tidak memanfaatkan hal ini secara bijak,dalam hal ini kebijakan pemerintah lah yang dituntut atas adanya program ini. selama ini memang faktanya surabaya hanya mencari link melulu, tidak ada follow up dari program yang dijalankan, akibatnya dapat kita lihat bahwa program sister city hanya beberapa yang mencapai MoU, sisanya sebagian besar berhenti dan hanya sebatas komunikasi saja.

Anonim mengatakan...

KRITERIA (6):
1.dampak (impact),
2.kemitraan (partnership),
3.keberlanjutan (sustainability) – legislasi, kebijakan sosial/strategi sektoral, institusional, efisiensi, efektivitas, transparansi, sistem manajemen; kepemimpinan (leadership)
4.pemberdayaan masyarakat (community empowerment),
5.kesetaraan gender dan pengecualian sosial (gender equity and social inclusion), inovasi dalam konteks lokal
6.dapat ditransfer (innovation within local context and transferability, replikasi).
PARAMETER (7):
1.situasi (sebelum-sesudah);
2.motivasi;
3.inovasi;
4.pengukuran hasil (dampak);
5.keberlanjutan;
6.pengalaman (lesson learned, action plan);
7.potensi pengembangan dan penerapan program untuk daerah lain (transferabilty).

Anonim mengatakan...

saya rasa, sister city yang dilakukan selama ini belum memenuhi kriteria dan paramter untuk keberhasilan suatu program kerja sama sehingga seharusnya ini menjadi bahan evaluasi untuk ke depannya agar melakukan follow up dari program - program kerja sama yang dilakukan.
semoga ke depannya Surabaya dapat berkembang dan maju dengan pesat meniru negara - negara yang mempunyai potensi yang seharusnya dipelajari

catalog_me mengatakan...

terima kasih atas sarannya.
sebenarnya saya juga baru mengetahui kalau Surabaya mempunyai program kerja sama berupa sister city ini. memang hasil dari kerjasama ini tidak terasa sama sekali, seperti yang dikatakan oleh pak Johan Silas dan Pak Haryo(yang kebetulan Pak Haryo adalah dosen jurusan saya). Gimana hasilnya bisa dirasakan kalau hanya untuk senang - senang..studi banding itu sah dan boleh - boleh saja asalkan ada hasilnya, bukan hanya jalan-jalan menghabiskan uang anggaran daerah. seperti halnya nama programnya yang baru saya dengar, saya juga baru membaca artikel kalau ternyata program kerja sama ini menghabiskan banyak biaya..
bagaimana Surabaya bisa maju kalau pemerintahnya hanya melakukan program yang seperti ini. program ini memang harus dievaluasi apakah keberlanjutannya akan terus dilakukan dengan adanya revolusi atau dihentikan saja daripada menghabiskan uang negara yang tidak lain adalah uang rakyat!

Anonim mengatakan...

kira - kira indikator apa yang nantinya akan digunakan kalau program kerja sama ini akan dievaluasi? dan apa dampaknya apabila hasil evaluasi nanti menunjukkan bahwa program ini berhasil tetapi tidak optimal saja?

Anonim mengatakan...

ass.
saya mau bertanya: apakah data yang akan digunakan untuk dievaluasi itu sudah valid? karena saya lihat ini hanya opini dan data sementara saja, tidak jelas prosentase biaya yang dikeluarkan, tujuan dari sister city ini sendiri. saya tahu maksud anda, tetapi apakah ini sebuah program? bukannya ini hanyalah sebuat kerja sama saja ya?
maaf kalau saya salah, tolong dijelaskan. terima kasih
wassalam.

catalog_me mengatakan...

terima kasih atas pertanyaan dan saran dari yang tmn2 berikan...setelah ini saya akan mencantumkan data yang ada...maaf apabila datanya belum masuk...terjadi error pada saat pemasukan data ke blog

Mengenai Saya

Foto saya
sederhana, biasa, gendut, berkacamata